Simfoni Hujan, Guru, dan Puisi

Kisah di Balik Peluncuran Antologi “Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang”

Bukittinggi, Mudapedia Hanya sehari setelah gema Hari Guru Nasional masih terdengar, para guru Bahasa Indonesia SMP se-Kota Bukittinggi menorehkan sejarah baru lewat peluncuran buku antologi puisi Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang. Karya bersama yang memuat 36 puisi ini menjadi simbol bahwa para pendidik tidak hanya mengajarkan sastra, tetapi turut berkarya dan merawatnya. Peluncuran dan bedah buku tersebut digelar di Aula Balai Kota Bukittinggi, Rabu (26/11/2025), di tengah derasnya hujan yang tak menyurutkan antusiasme para pegiat literasi.

Acara dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bidang Administrasi dan Keuangan Kota Bukittinggi, Melfi Abrar, M.Si, yang turut membacakan sebuah puisi. Suasana ruangan seketika berubah hening dan khidmat, seolah mempertegas bahwa karya para guru memang layak memperoleh apresiasi yang tinggi.

Hadir pula Kabid PKPMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para kepala sekolah, Kepala Perpustakaan Bung Hatta, serta guru-guru Bahasa Indonesia dari seluruh SMP di Bukittinggi. Sosok Bundo Zet, sesepuh guru Bahasa Indonesia dan mantan pengawas, menambah kehangatan sekaligus menjadi penanda panjangnya jejak literasi di kota ini.

Rangkaian kegiatan makin meriah dengan dramatisasi puisi serta pembacaan karya dari para guru. Namun puncak acara adalah sesi bedah buku yang menghadirkan narasumber sastra dari Padang Panjang, Muhammad Subhan.

Dengan gaya penyampaian yang analitis namun mudah dipahami, ia mengupas kekuatan metafora, keberagaman tema, hingga karakter khas para penulis dalam antologi tersebut. Para peserta menyimak dengan serius karena materi ini bukan hanya memperkaya apresiasi sastra, tetapi juga memberi wawasan baru untuk diterapkan dalam proses pembelajaran puisi di sekolah.

Diskusi dipandu oleh Dilla, S.Pd. dari SMPN 2 Bukittinggi, yang menjaga alur pembicaraan tetap hidup, hangat, dan inspiratif. Di sela acara, dilakukan pula penyerahan buku antologi kepada para kepala sekolah untuk dijadikan media ajar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Karya nyata para guru ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus contoh konkret bagi siswa dalam mengenal dunia kepenulisan.

Meski hujan tak berhenti mengguyur kota, suasana di dalam aula tetap hangat. Para guru pulang dengan kebanggaan baru: karya mereka tidak hanya ditulis, tetapi juga dirayakan, didiskusikan, dan disebarkan sebagai sumber inspirasi. Simfoni di Bawah Menara Jam Gadang hadir bukan sekadar sebagai antologi puisi, melainkan sebagai bukti bahwa guru-guru Bukittinggi terus menyalakan cahaya literasi bagi generasi muda. (*)

Related posts
Tutup
Tutup