Cinta di Antara Lubang Jalan

Oleh: Junaidi Ismail *)

MUDAPEDIA – HUJAN gerimis mengguyur kawasan Telukbetung, Kota Bandarlampung sore itu. Reynaldi Prakasa, seorang jurnalis lajang asal Bandung, menepi di bawah ruko tua, menunggu hujan sedikit reda sebelum melanjutkan pekerjaannya. Baru saja ia hendak melangkah, suara teriakan seorang perempuan mengalihkan perhatiannya.

Seorang muli Lappung (gadis Lampung) terjatuh di tengah jalan berlubang yang tergenang air. Motor maticnya terguling, sementara tubuhnya berusaha bangkit dengan susah payah. Tanpa berpikir panjang, Reynaldi berlari ke arahnya, membantu gadis itu berdiri.

“Terima kasih, Bang…” ucap gadis itu dengan suara bergetar, antara menahan sakit dan rasa malu.

“Sama-sama. Kamu nggak apa-apa?” Reynaldi menatap gadis itu penuh khawatir. Lututnya berdarah, tangannya gemetar.

Gadis itu mengangguk pelan, meski jelas terlihat betapa perih luka di kakinya. “Nama saya Atika Putri,” katanya dengan senyum samar.

Hari itu menjadi awal dari banyak percakapan mereka. Reynaldi, yang awalnya hanya berencana singgah sementara di Bandarlampung, mendapati dirinya ingin lebih lama berada di kota itu. Bukan hanya karena tugas jurnalistiknya, tapi karena setiap hari ada Atika—gadis yang tanpa sengaja ia temui dalam musibah kecil di jalan raya.

Waktu berlalu, dan cinta tumbuh di antara mereka. Hingga akhirnya, enam bulan kemudian, Reynaldi melamar Atika. Mereka mengucap janji suci di hadapan keluarga dan sahabat, bersyukur bahwa pertemuan yang tidak terduga itu membawa mereka pada kebahagiaan sejati.

Namun, di balik kisah indah mereka, tetap terselip keresahan. Jalan yang membuat Atika terjatuh hari itu masih sering menjadi jebakan bagi pengendara lain. Reynaldi, dengan profesinya sebagai jurnalis, berkali-kali menulis tentang kondisi jalanan yang memprihatinkan, menyoroti kurangnya perhatian dari pemerintah kota dan provinsi.

“Kita memang bertemu karena jalan berlubang, tapi bukan berarti lubang-lubang itu harus terus ada untuk mempertemukan orang lain,” kata Atika suatu hari, saat mereka melewati jalan yang sama.

Reynaldi tersenyum, menggenggam tangan istrinya erat. “Kita akan terus bersuara, sampai mereka sadar bahwa setiap jalan yang rusak adalah ancaman bagi banyak nyawa.”

Dan begitulah, cinta mereka terus tumbuh, seiring dengan harapan bahwa suatu hari nanti, jalan-jalan di kota itu tak lagi menjadi perangkap berbahaya—melainkan jalur yang aman bagi setiap perjalanan, termasuk bagi kisah-kisah cinta yang akan datang. (*)

(Cerita ini hanya fiksi, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan semata.)

*) Wartawan Utama Dewan Pers

Related posts
Tutup
Tutup