Oleh: Nurul Jannah | Penulis
MUDAPEDIA – Di tengah klakson yang bersahut-sahutan,
aku melihat wajah seorang pedagang kaki lima,
berpeluh namun tetap tersenyum, seakan ia menjual bukan roti,
melainkan harapan yang lebih berat dari hidup yang memanggulnya.
Di desa, aku melihat seorang ibu menjemur padi sambil bersenandung doa,
menantang terik dengan sabar yang tak pernah putus,
seperti bumi yang terus melahirkan meski sering disakiti.
Di kota, lampu-lampu neon menyulam malam,
namun ada seorang anak kecil tertidur di emper toko,
membungkus mimpinya dengan kardus rapuh dan dingin bintang yang jauh.
Di desa, bulan bundar menggantung di langit,
dan anak-anak berlari di pematang,
tertawa seperti denting lonceng surga yang tak pernah letih memanggil pulang jiwa yang penat.
Indonesia bergerak di antara keduanya,
menyimpan luka-luka yang belum sembuh, tawa yang tetap bertunas,
dan ribuan doa sederhana yang naik ke langit sebagai cahaya tak terlihat.
Ia memanggil kita:
“Jangan biarkan aku retak oleh jarak dan perbedaan,
peluklah aku dengan tangan-tangan kecilmu yang penuh kasih dan keberanian.”
Dari getar tanah yang retak hingga ombak yang memukul tebing,
Indonesia menangis dan tertawa dalam satu napas panjang,
seolah mengingatkan kita bahwa negeri ini hidup karena keteguhan rakyat kecil yang tak pernah menyerah.
Jika doa-doa kita tak lagi bersatu,
Garuda akan jatuh, sayapnya koyak di tengah badai sejarah
yang kita biarkan mengamuk tanpa persatuan.
Dari klakson kota hingga kokok ayam desa,
dari bising jalan raya hingga bisikan angin sawah,
Indonesia terus memanggil kita pulang, ke akar, ke nurani, ke cinta awal.
Kita tak boleh letih mencintainya.
Dan, selama doa-doa kecil itu menyatu di langit,
Garuda akan tetap terbang,
dan tanah air ini akan terus bernapas dalam pelukan kita,
pelukan yang tak pernah ingin dilepaskan. (*)
Bogor, 26 November 2025





