Langkah Buasim ke Tanah Kudunga

Oleh: Mochamad Taufik
Alumnus IPA 1 SMAN Bangil 1986

MUDAPEDIA.COM – Hujan baru reda di sore Bangil yang sunyi. Dari balik jendela kelas, Buasim menatap gerimis yang masih menggantung di ujung genteng. Hari itu, pelajaran sejarah di kelas IX terasa berbeda. Bukan karena materinya, tapi karena cara Pak Abas, guru sejarah legendaris di SMP Negeri 1 Bangil, menyampaikan kisah tentang Kerajaan Kutai Martadipura.

“Anak-anak,” ucap Pak Abas dengan suara yang pelan tapi menusuk, “tahukah kalian? Kerajaan tertua di Nusantara ini bukan di Jawa. Bukan pula di Sumatra. Tapi di Kalimantan Timur, di tepi Sungai Mahakam. Kutai Martadipura, nama kerajaannya. Rajanya bernama Kudunga, dan kita tahu itu dari peninggalan batu bertulis yang disebut Yupa.”

Kalimat itu menancap kuat dalam ingatan Buasim. Ia bukan siswa terpintar di kelas, tapi pelajaran sejarah membuat matanya berbinar. Ia pulang ke rumah membawa mimpi: suatu hari, ia ingin menginjak tanah tempat batu Yupa berdiri. Ia ingin menyaksikan sendiri kerajaan tertua di tanah airnya.


Setelah lulus SMA Negeri Bangil, saat teman-temannya sibuk mencari universitas atau kerja di kota, Buasim mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia merantau ke Kutai Kartanegara, seorang diri. Hanya berbekal tabungan hasil membantu ayahnya bertani dan semangat yang menyala karena sejarah.

Ia menyeberang dari Pelabuhan Tanjung Perak ke Balikpapan, lalu naik kendaraan umum ke Samarinda dan lanjut ke Tenggarong. Di kota itu, tak ada siapa pun yang ia kenal. Ia tidur di masjid, makan seadanya, dan bekerja apapun yang bisa ia dapat—memanggul barang di pelabuhan kecil, memetik kelapa, hingga jadi kernet angkutan desa.

Namun, alam Kalimantan mengajarinya keteguhan. Setelah satu tahun, ia mulai menyewa sebidang lahan kecil di Muara Kaman. Tanah itu ia tanami bibit kelapa sawit, yang ia rawat dengan penuh disiplin. Panas, hujan, dan lumpur tak membuatnya surut.

Tiga tahun berlalu. Sawitnya mulai berbuah. Panennya stabil. Ia memperluas lahan dan mulai mempekerjakan warga lokal. Perlahan, Buasim menjelma jadi petani muda yang mandiri. Tapi di tengah kesibukannya, satu cita-cita belum terwujud: menyaksikan langsung bekas Kerajaan Kutai.


Pada pagi yang cerah di musim kemarau, ia pergi ke situs Yupa di Kecamatan Muara Kaman. Di sana, ia berdiri lama di depan prasasti batu beraksara Pallawa. Di sela batu itu, sejarah terasa hadir.

“Ini yang dulu diceritakan Pak Abas,” bisiknya lirih. Dadanya bergetar. Seolah-olah Raja Kudunga sedang berdiri di sampingnya.

Lalu hadir seseorang—seorang gadis muda berpakaian adat Kutai. Namanya Sri Rahmawati, pemandu wisata dan cucu juru kunci situs Yupa. Sri menjelaskan detail sejarah prasasti dengan fasih. Tentang Aswawarman, sang pendiri dinasti, hingga Mulawarman, sang raja dermawan.

Sejak saat itu, kunjungan Buasim ke situs itu tak hanya karena sejarah, tapi karena Sri.

Hari demi hari, ia mendekat. Awalnya sebagai pengunjung biasa, lalu jadi sahabat diskusi sejarah. Namun ketika hatinya mulai serius, rintangan pun datang. Ayah Sri, seorang tokoh adat di Muara Kaman, memandang Buasim dengan curiga.

“Kau cuma perantau. Bisa datang, bisa pergi. Anakku bukan untuk kau bawa pergi dari tanah ini,” katanya tajam.

Buasim tidak mundur. Ia tahu bahwa cinta sejati perlu dibuktikan dengan kesabaran. Ia memperkuat posisinya di masyarakat. Ia ikut gotong royong membangun balai kampung, mengajar anak-anak muda tentang pertanian berkelanjutan, dan ikut melestarikan budaya lokal.

Bahkan ia memfasilitasi pelatihan sejarah digital untuk anak muda, agar cerita tentang Kutai tak hilang tertelan zaman. Ia bergaul dengan bijak, menjaga adab, dan tak pernah menunjukkan sikap tinggi hati meskipun usahanya sukses.

Butuh waktu dua tahun hingga sang ayah mulai luluh.

“Buasim,” ucap sang ayah suatu malam dalam musyawarah adat, “kau telah menjadi bagian dari tanah ini. Kau bukan sekadar perantau, tapi pewaris semangat para leluhur. Jika kau ingin menjadikan Sri sebagai istrimu, kuizinkan.”

Air mata Sri menetes pelan. Dan Buasim, pria sederhana dari Bangil yang hanya bermodal mimpi sejarah, akhirnya menjadi menantu juru kunci kerajaan tertua di negeri ini.


Kini, Buasim dan Sri hidup damai di rumah panggung di antara rimbunnya kebun sawit. Mereka mengelola usaha pertanian modern dan tetap aktif menjaga situs-situs sejarah di Muara Kaman. Setiap akhir pekan, mereka mendampingi wisatawan lokal dan mancanegara menjelajahi situs Kutai, menjelaskan sejarah dan makna budaya.

“Sejarah bukan hanya masa lalu,” ujar Buasim kepada generasi muda dalam salah satu forum pemuda di Tenggarong. “Tapi arah hidup. Dulu aku hanya anak kampung di Bangil, sekarang aku bagian dari tanah Kudunga—kerajaan tertua yang memberiku cinta, kerja keras, dan makna hidup.”


Fakta Tambahan:

Kutai Martadipura adalah kerajaan Hindu tertua di Indonesia, berdiri sekitar abad ke-4 M, dengan rajanya Kudunga, diteruskan oleh Aswawarman dan Mulawarman.

Situs peninggalan kerajaan seperti Yupa ditemukan di sekitar Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Saat ini, Kutai Kartanegara juga dikenal sebagai lumbung sawit dan daerah potensial pertanian, serta memiliki peran penting dalam pelestarian budaya Kalimantan Timur. (*)

menuliscerpenpramuka& persahabatan Cerpen ke 24

Related posts
Tutup
Tutup