Oleh : A.Yudi dan M.Taufik
Alumnus IPA 1 SMAN Bangil 1986
MUDAPEDIA.COM – Pagi hari di desa itu datang seperti biasa—sunyi, dengan semilir angin dari arah barat dan suara ayam jantan yang seperti mengajak manusia bangkit, bukan sekadar bangun.
Di halaman samping musala, Pak Agus duduk sendirian. Bukan karena tak ada teman, tapi karena ada banyak kenangan yang perlu dihadapi dalam diam. Ia baru saja kembali ke desa setelah bertahun-tahun menjadi TKI di Arab Saudi.
Bekerja dari satu keluarga ke keluarga lain, lalu menetap sebagai pengrajin emas di kawasan industri yang terkenal keras dan menuntut. Setiap hari ia bergelut dengan logam panas, api solder, dan tekanan produksi. Tangannya melepuh, matanya pedih, tapi semangatnya tak pernah padam. Ia tahu, setiap butiran keringat yang menetes dari dahinya bukan sekadar perjuangan—itu doa yang mengkristal menjadi harapan untuk anak-istri di tanah kelahirannya.
Tidur hanya empat jam sehari, makan seadanya, kadang menyimpan rindu dalam sepotong roti dan segelas teh tawar. Ia harus bekerja cepat dan presisi—salah sedikit saja, gaji dipotong, bahkan dimarahi. Tapi ia bertahan. Karena bukan emas yang ia kejar, tapi masa depan. Ia ingin saat pulang nanti, bisa bangun rumah kecil, menyekolahkan anak, dan membelikan obat untuk ibunya yang menua.
Kadang, saat malam tiba dan suhu gurun turun drastis, Pak Agus menyendiri di sudut kamar sempitnya. Ia menatap foto keluarga yang diselipkan di bawah kasur, lalu menitikkan air mata dalam diam. Ia tidak ingin dunia tahu, bahwa dibalik kekuatan fisik yang ia tampilkan, ada jiwa yang hampir retak karena tekanan. Tapi setiap kali ia hendak menyerah, ia mengingat wajah anaknya yang masih kecil, menunggu kiriman dari ayahnya yang dianggap pahlawan.
Pak Agus dulu pemain bola yang lincah di sekolah. Semua orang menyukainya. Tapi lapangan hijau tak selamanya bisa memberi nafkah. Maka ia memilih jalan sunyi: merantau diam-diam dan pulang dengan harapan.
Di tengah hiruk pikuk bengkel emas suatu siang yang terik, kecelakaan itu terjadi secepat kilat. Sebuah mesin poles besar yang sedang ia gunakan tiba-tiba oleng dan mengenai lengannya. Rasa sakit yang menusuk tulang langsung membuatnya limbung. Ia hanya sempat melihat darah merembes di balik seragam kerjanya sebelum semuanya menjadi gelap.
Berita tentang Pak Agus sampai dengan cepat ke telinga sesama pekerja migran Indonesia di sekitar Riyadh. Solidaritas yang terjalin bertahun-tahun di tanah rantau bergerak tanpa dikomando. Mereka datang berbondong-bondong ke rumah sakit tempat Pak Agus dirawat. Bukan hanya sekadar menjenguk, tapi juga membawa serta sedikit rezeki yang mereka sisihkan dari upah pas-pasan. Ada yang membawa buah, ada yang membawa makanan rumahan, dan tak sedikit yang menyodorkan amplop berisi riyal yang sangat berharga.
“Kita di sini sama-sama berjuang, Pak Agus. Susah senang kita tanggung bersama,” ujar seorang pemuda asal Jawa Timur yang bekerja di peternakan unta, sambil meletakkan bungkusan di meja samping ranjang.
Bukan hanya dari Indonesia, beberapa pekerja migran dari negara lain yang mengenal Pak Agus juga datang menunjukkan kepedulian. Mereka tahu betul, di tanah asing ini, kebersamaan adalah oase di tengah kerasnya kehidupan.
Selama masa pemulihan, teman-teman Indonesianya bergantian menjaga dan merawat Pak Agus. Mereka membawakan makanan halal, membacakan doa, dan menyemangatinya untuk segera pulih. Bantuan finansial yang terkumpul juga sangat berarti untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari Pak Agus selama tidak bisa bekerja. Kecelakaan itu, di tengah rasa sakit dan ketidakberdayaannya, justru menampakkan sisi kemanusiaan yang begitu indah di tanah rantau. Ia menyadari, di balik kerasnya persaingan mencari rezeki, ikatan persaudaraan antar sesama perantau tetaplah yang utama.
Pagi itu, ia duduk berdampingan dengan Abah Jun di bangku panjang yang menghadap ke kebun sawo. Tak ada salam panjang. Tak ada basa-basi.
Abah hanya menatap langit lalu berkata pelan, “Agus… kadang yang membuat hidup ini berat bukan karena tak punya apa-apa. Tapi karena terlalu banyak yang kita inginkan.”
Pak Agus menunduk, lalu berbisik, “Di sana, saya lihat semua orang hidup serba cepat, Bah. Semua ingin lebih… lebih banyak, lebih tinggi, lebih cepat. Tapi di akhir hari, semua tetap lapar…”
Abah Jun tersenyum, lalu menggenggam tangan Pak Agus. “Firasat mengajarkan kita untuk hidup sederhana, agar jiwa tidak terbebani oleh keinginan yang tak terhingga. Firasat itu bukan untuk dipelajari… tapi dijalani. Ia hadir saat kita tenang, bukan saat kita sibuk mengejar dunia.”
Pak Agus menahan napas. Matanya berkaca. Ia seperti menemukan kembali dirinya sendiri, di bangku kayu tua itu.
Malamnya, setelah isya, para tetangga berkumpul di musala. Di tengah ruangan, Pak Agus berdiri. Diminta berbagi cerita. Ia tidak banyak bicara. Hanya berkata satu kalimat:
“Saya tidak kembali dengan gelar atau uang banyak. Tapi saya pulang… dengan hati yang lebih mengerti bahwa hidup itu bukan soal menang. Tapi soal kuat bertahan tanpa kehilangan arah.”
Semua terdiam. Hanya suara detik jam di dinding musala.
Malam itu, setelah semua kembali ke rumah, Pak Agus menulis surat kecil dan menaruhnya di mimbar musala. Isinya:
“Terima kasih telah mengizinkan saya pulang.
Bukan hanya secara fisik… tapi juga secara batin.
Saya tidak minta dikenang,
cukup diizinkan untuk ikut menjaga rumah ini—
rumah yang membuat saya utuh kembali.”
Ia bergumam lirih:
“Yang datang dengan kesungguhan, akan pulang dengan kedamaian…” (*)
menuliscerpenpramuka&persahabatan Cerpen ke 25





