Lokakarya Ortografi : Upaya Menyelamatkan Bahasa Lokal dari Kepunahan

Suasana Lokakarya Ortografi (Foto: Sadri Ondang Jaya)

Laporan Sadri Ondang Jaya

Subulussalam, Mudapedia – Suluh Insan Lestari menggelar Lokakarya Ortografi Bahasa Daerah di Kota Subulussalam, Aceh Selasa hingga Jumat (18–21/2/2025).

Kegiatan ini berfokus pada Bahasa Singkil, Pesisir Singkil, dan Aneuk Jamee, yang bahasanya kini dikhawatirkan terancam punah.

Lokakarya ini dihadiri oleh penutur bahasa lokal, pengamat bahasa, penerjemah, dan penulis, dengan tujuan utama menyusun sistem penulisan (ortografi) yang baku untuk melestarikan bahasa-bahasa tersebut.

Salah satu narasumber, Tiar Simanjuntak, pegiat bahasa dari Jakarta, menegaskan bahwa lokakarya ini bertujuan agar bahasa daerah tetap hidup dan dicintai oleh masyarakat, terutama penuturnya.

“Kita berupaya melestarikan bahasa daerah agar tidak punah. Jika tidak segera dituliskan dengan sistem yang baik, bahasa ini bisa hilang,” ujar Tiar.

Menurutnya, ancaman kepunahan bukan hanya karena makin jarangnya penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga karena minimnya kebijakan yang mendukung pelestarian bahasa daerah.

“Banyak bahasa yang punah bukan karena tidak ada penuturnya, melainkan karena tidak adanya sistem penulisan yang baku dan kurangnya dukungan kebijakan,” tambahnya.

Tiar menekankan pentingnya mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulis melalui ortografi yang terstandarisasi.

Dengan demikian, bahasa daerah dapat lebih mudah dipelajari dan diajarkan kepada generasi muda.

“Ortografi yang baik akan membuka peluang bagi pengembangan karya tulis dalam bahasa lokal, seperti buku, puisi, lagi, dan karya ilmiah, sehingga bahasa daerah tidak hanya bertahan tetapi juga berkembang,” jelasnya.

Baizar Zulmi, salah satu peserta lokakarya, menilai upaya ini sangat penting dalam menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi.

“Dengan ortografi yang baik, bahasa daerah bisa tetap relevan dan bahkan berkembang di era digital ini,” katanya.

Dari pengamatan, meski jumlah peserta dibatasi, antusiasme mereka begitu sangat tinggi. Mereka mengikuti lokakarya dengan penuh semangat, bahkan hingga larut malam.

Semua peserta berharap agar kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal dalam upaya mempertahankan bahasa lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.[*]

Related posts
Tutup
Tutup