Dynamic Learning, Misi Selamatkan Anak Jalanan dan Pecandu Narkoba

0
43
Dynamic Learning Semarang

Hai Sob! Kalian suka sedih nggak sih kalau lihat anak-anak kecil yang mengamen di pinggir jalan? Sedih kan? Kalau kalian perhatikan, ternyata di Kota Semarang banyak loh anak-anak putus sekolah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan untuk mencari nafkah.

Awal Mula Dynamic Learning,

Keberadaan anak jalanan ini membuat sekelompok anak muda tergerak untuk mendirikan sebuah komunitas yang bernama Dynamic Learning Indonesia. Berdiri sejak tahun 2011 atas inisiatif Dewi Nur Cahyaningsih, yang saat itu merupakan siswi SMA Negeri 3 Semarang, komunitas ini awalnya dinamakan sebagai KOPAJA (Koperasi Anak Jalanan).

Tujuan didirikannya KOPAJA adalah untuk membantu anak jalanan mencari nafkah tanpa harus mengemis atau mengamen. Hanya bermodal uang saku sebesar 15 ribu rupiah, Koperasi Anak Jalanan bisa meraup untung sebesar 300 ribu rupiah dalam waktu dua minggu loh Sob! Tak hanya itu, KOPAJA juga berhasil menurunkan angka anak jalanan yang berdomisili di sekitar Kampung Pelangi, Kota Semarang.

“Dulu sih ada sekitar 12 anak jalanan yang bergabung ke KOPAJA, terus lama kelamaan jumlah yang gabung bertambah. Terus pelan-pelan anak jalanannya dikasih pengertian supaya nggak ngamen atau mengemis lagi. Walaupun agak susah, tapi lama-lama jumlah anak yang turun ke jalan makin dikit, sekarang cuma 3-4 anak aja yang masih sering turun ke jalan” ujar Nadya Putri, selaku Ketua Dynamic Learning Cabang Semarang.

Tahun 2013, KOPAJA beralih nama menjadi Dynamic Learning Indonesia dan memperluas daerah binaannya ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak hanya mendirikan koperasi untuk anak jalanan, Dynamic Learning juga memberikan pendidikan non formal berbasis 5 pilar pendidikan karakter, yakni Agama, Nasionalisme, Motivasi, Teknologi dan Kewirausahaan.

Baca Juga: Aktivitas Mahasiswa Ketika Liburan, Anti Gabut-Gabut Club



Bermula Anak Jalanan, Merambah ke Para Pencandu Narkoba,

Masyarakat yang dibinapun tidak hanya anak jalanan dan putus sekolah loh Sob! Para mantan pecandu narkoba yang telah direhabilitasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) juga ikut dibina. Saat ini, terdapat 57 anak jalanan termasuk anak putus sekolah, 12 orangtua anak jalanan, serta 20 mantan pecandu narkoba yang tergabung menjadi masyarakat binaan Dynamic Learning Indonesia.

Tanpa kenal lelah, para anggota Dynamic Learning Indonesia yang berjumlah 50 orang ini kemudian kembali beraksi dengan memangun sebuah marketplace yang digunakan untuk menjual produk buatan masyarakat marginal yang mereka berdayakan.

“Saat ini fokus kami adalah pembangunan marketplace. Nah kan kami sudah memberikan materi kewirausahaan kepada masyarakat yang kami bina. Beberapa orang kami ajarkan untuk membuat produk seperti dynamic cookies atau kerajinan tangan.

Karena tujuan utama kami adalah membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat marginal, makanya kami sekalian buatkan marketplace ini agar produk-produk yang dibuat orangtua anak jalanan ini bisa dijual dan menjadi tambahan penghasilan bagi mereka. Bisa dibilang, kalau kami ini sekarang bentuknya adalah startup sociopreneur”, begitulah yang disampaikan Osadhani selaku Chief of Marketing Officer Dynamic Learning Indonesia saat ditemui di tempat mengajar Dynamic Learning Semarang.



Mendorong Terjadinya Dampak Sosial,

Sedikit informasi aja nih Sob, jadi Sociopreneur adalah kegiatan berwirausaha berbasis bisnis namun dengan misi utama menciptakan social-impact yakni meningkatkan harkat dan taraf hidup masyarakat kelas menengah ke bawah. Wah keren nggak nih Dynamic Learning Indonesia?

Meskipun sebagian besar anggotanya adalah pelajar dan mahasiswa, Dynamic Learning sudah memberikan dampak yang besar loh untuk masyarakat. Bahkan merekapun telah menjalin kerjasama dengan beberapa UMKM penghasil batik di Yogyakarta dan Klaten.

“Jadi selain membantu menjualkan produk dari orangtua anak jalanan dan mantan pecandu narkoba, kita juga bantu menjual produk dari UMKM. Kami ingin supaya masyarakat pra-sejahtera yang tergabung dalam UMKM itu terbantu. Kebetulan yang di Jogja dan Bayat, Klaten ini produk batiknya bagus-bagus tapi pemasarannya masih sangat kurang” tambah Osadhani.

Marketplace Dynamic Learning Indonesia ini memanfaatkan website, beragam platform media sosial (Instagram, Twitter, Facebook), dan yang terbaru akan dikembangkan pula bot line untuk memudahkan pemasaran produk melalui aplikasi chat Line Messenger.



Nggak cukup dengan membuat marketplace saja, para anggota Dynamic Learning Indonesia juga ternyata aktif mengukir prestasi. Mereka pernah menjadi Finalis PKM pada tahun 2015, Top 20 Pitchers dalam ajang bisnis Pitch First 2018 dan meraih media perak pada OPSI tahun 2011. Dynamic Learning Indonesia juga menyabet juara pada kompetisi Internasional yakni EDGE HACK 2017 dan The Best Pitching ASEAN Startup Accelerator di Singapura.

Wah ternyata, anak-anak muda zaman sekarang keren-keren ya Sob? Dengan niat yang tulus untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat marginal, mereka pun bisa melakukan berbagai macam hal bermanfaat termasuk mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional. Kalau kamu sendiri gimana Sob? Siapkah untuk jadi agen perubahan juga seperti mereka?

Leave a Reply