Zona Nyaman: Bikin Ketagihan tapi Menyesatkan!

0
45

Manusia Bergerak untuk Hidup

Manusia dari hari ke hari pasti selalu bergerak. Ada yang bergerak maju, ada yang bergerak di tempat ada juga yang bergerak mundur. Pergerakan ini ditentukan berdasarkan kebiasaan sehari-hari manusia itu sendiri. Bila kebiasaannya baik maka akan menuntun manusia itu untuk bergerak maju. Begitu sebaliknya, bila kebiasaan itu buruk maka cenderung menuntun manusia untuk bergerak mundur/stagnan. Pergerakan manusia dalam hidup ini bermula karena manusia mencoba untuk memenuhi kebutuhan fundamentalnya. Kebutuhan fundamental manusia ada 3. Pertama need of social; kebutuhan untuk bersosial. Kedua need of religion; kebutuhan untuk beragama. Ketiga adalah need of achievement, yaitu kebutuhan untuk bisa mencapai sesuatu.

Manusia yang Berkualitas

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi maka manusia akan naik level ke proses aktualisasi diri. Proses aktualisasi diri membutuhkan manusia yang berkualitas, manusia yang memiliki kebiasaan yang apik. Lantas, kebiasaan yang apik itu seperti apa? Kebiasan yang apik itu dibentuk dengan cara yang bagaimana?

Jawabannya, kebiasaan yang apik itu mengajak manusia untuk keluar dari Zona Nyamannya/ Comfort Zone. Dan Cara membentuk kebiasaan baik itu adalah dengan memahami cara keluar dari Comfort Zone.

Manusia Harus Keluar dari Zona Nyaman!

Mengapa harus keluar dari Zona Nyaman? Padahal Zona Nyaman adalah tempat ternyaman manusia, dan tempat yang ‘memungkinkan’ manusia memperoleh kebahagiaan versi dirinya sendiri. Eits tunggu dulu! Zona Nyaman memang bisa memberikan kebahagiaan, namun itu bersifat sementara. Nggak cuma itu Sob! Disamping bikin nyaman, zona nyaman juga perlahan-lahan bisa merugikan!

Apa sih Zona Nyaman itu? Kok Bahaya?

Zona Nyaman adalah sesuatu kegiatan yang sudah terhabitisasi di masa lalu kita, sehingga kegiatan itu sudah jadi kegiatan yang biasa (alam bawah sadar). Zona nyaman, memberikan kenyamanan bagi manusia yang sudah sering melakukan kegiatan tersebut. Jadi seorang manusia yang berada di Zona Nyaman akan selalu melakukan kegiatan yang sama setiap harinya. Kegiatan yang sama setiap harinya menandakan bahwa manusia itu tidak berkembang, tidak ada target/tujuan baru dalam hidupnya. Kondisi ini berbahaya, karena membuat manusia sulit bergerak ke proses aktualisasi diri, karena sudah nyaman dengan kegiatan-kegiatan yang itu-itu saja, yang tidak memberikan pembentukkan diri yang lebih baik. Logikanya jika manusia itu hanya melakukan kegiatan yang sama setiap harinya, maka pergerakan manusia itu akan sama setiap harinya, atau bisa dibilang stagnan. Maka, kata motivasi “Hari Ini Harus Lebih Baik Dari Hari Kemarin” tidak akan tercapai jika hanya berada di Zona Nyaman. Oleh karena itu, manusia harus keluar dari Zona Nyamannya, dan Menantang diri sendiri untuk melakukan kegiatan baru yang positif dan menjadikannya Habit/Kebiasaan baru yang akan membentuk diri jadi lebih baik.

Keluar dari Zona Nyaman memang susah Sob!

Proses membentuk Kebiasaan baru yang baik atau istilahnya adalah keluar dari Zona Nyaman, tidaklah mudah! Zona Nyaman, memiliki 2 hal yang akan memberontak habis-habisan jika manusia ingin keluar darinya. Dua hal ini akan menarik lagi niat manusia untuk melakukan kegiatan-kegiatan baru yang positif:
1. Inner Voice, yakni suara-suara dari dalam diri manusia yang akan memberi tahu manusia jika akan melakukan hal-hal baru. Inner voice ini akan berbicara ke kita untuk mengurungkan niat mengerjakan kegiatan baru. Contoh inner voice; Jika kita ingin merubah kebiasaan bangun siang (jam 11) menjadi bangun pagi (jam 5) maka Inner Voice akan berbisik, “Udah tidur aja dulu baru jam 4 ini, masih sejam lagi jam 5” Namun waktu kita melihat lihat jam tiba-tiba sudah jam 8 dan kita ingin segera bangun, tapi Inner Voice akan berbisik lagi, “Udah tidur lagi aja dulu, ini hari libur loh, gak papa kita tidur lebih lama. Kasihlah tubuhmu istirahat yang cukup” Dan akhirnya kebiasaan baru untuk bisa bangun pagi jam 5, tidak terlaksana, karena ada si Inner Voice ini. Contoh lagi, jika kita ingin mengubah kebiasaan agar tidak mengerjakan tugas mepet waktu/deadliner, maka kita akan berusaha untuk mencicil tugas itu dari jauh-jauh hari sebelum waktunya tugas dikumpulkan. Namun, Inner Voice akan muncul dan berbisik, “Loh, ini kan baru tanggal 9, masih 7 hari lagi kok tugasnya dikumpulkan, masih lama. Udah kamu nyelesain yang lain aja dulu. Tuh lihat tuh, temen kamu ngajak belanja. Udah belanja aja dulu, toh kebutuhan kamu udah pada habis kan. Tenang 7 hari masih lama“. Sampai saatnya deadline tugas datang, tugas tersebut belum selesai dikerjakan. Habit baru untuk tidak jadi deadliner tidak terbentuk.
2. Sensasy Phisiology, adalah sesuatu yang membuat kita nggak bisa, dan membuat kita merasa sungkan untuk melakukan habit baru. Contoh, awalnya ada seorang anak yang tidak merokok namun tiba-tiba ingin mencoba merokok. Waktu pertama mencoba merokok anak tersebut batuk-batuk, tapi tetap dipaksakan untuk mencoba merokok terus. Pada akhirnya batuk-batuknya (sensasy phisiology) berkurang dan anak itu merasa kalo tidak merokok seperti ada sesuatu yang hilang/mengganjal.
Dua hal di atas tentu sulit untuk dihindari karena itu melekat di setiap Zona Nyaman manusia. Lalu, bagaimana caranya menghadapi dua hal tersebut agar kita berhasil keluar dari Zona Nyaman?

Trik Keluar dari Zona Nyaman

Trik untuk keluar dari Zona Nyaman adalah dengan tidak membangunkan inner voice dan sensasy phisiology. Kita harus membawa dua hal tersebut ke habit baru yang kita rencanakan, secara tidak sadar. Sejatinya, Zona Nyaman memberikan 3 prinsip:
1. Setiap manusia merasa nyaman dengan Zona Nyamannya
2. Setiap manusia merasa terganggu dengan habit baru
3. Setiap manusia yang memaksa melakukan ketidaknyamanan akan meghasilkan kenyamanan di masa depan

Ciri bahwa Kamu Berhasil Keluar dari Zona Nyaman

Dapat dikatakan sebuah perubahan habit/ keluar dari Zona Nyaman itu berhasil jika ada perbedaan kegiatan pada proses before dan after. Indikator perubahannya ada 3:
– Yang awalnya tidak dilakukan, jadi dilakukan (0)
– Ada nilai tambah. Awalnya tidak melakukan akhirnya melakukan (+)
– Terjadi pengurangan dari hal-hal destruktif (-)
Nah, kabar baiknya Habit baru dapat dinobatkan sebagai Habit baru jika Habit itu bertahan minimal dalam 21 hari.
Agar bisa mempertahankannya dalam 21 hari, maka perlu untuk tidak membangunkan 2 hal tadi, yakni Inner voice dan sensasy phisiology.
Habit baru perlu dilakukan sedikit demi sedikit. Prinsipnya adalah “Think Big Start Small. Bisa karena Biasa, Biasa karena Pembiasaan.” Oleh karena itu, yuk semangat berubah untuk masa depan yang lebih cerah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here