Puisi SPBU

K. Suheimi | Penulis

Satu kali,
kami berdiri dalam antrean panjang di sebuah SPBU—
di bawah matahari yang sabar,
di antara klakson yang tak ingin marah,
dan waktu yang berjalan pelan seperti unta di padang pasir.

Di sana,
tak ada tawar-menawar,
tak ada restan,
tak ada cerita selain menunggu giliran
yang datangnya sepelan hujan pertama.

Lalu, entah bagaimana,
dari antrean yang sederhana itu
tumbuh sebuah ilham:
Mengapa tidak kita dirikan saja SPBU sendiri?

Maka berdirilah—
di jalan Bypass Bukittinggi yang berangin,
dan satu lagi di Biaro yang teduh,
dua titik kecil rezeki
yang Allah titipkan dalam perjalanan kami.

“Enak juga usaha SPBU ini,”
kata istri saya, dr. Zurtias, sambil tersenyum ringan.
“Tak ada tawar-menawar,
tak ada restan—
semuanya tinggal mengalir
seperti bensin ke tangki,
seperti rezeki ke hati yang yakin.”

Dan kami pun tersenyum,
mengingat bahwa kadang,
sebuah antrean sederhana
bisa menjadi jalan panjang
menuju karunia yang tak pernah kami rencanakan.

Sejak itu,
setiap pagi kami melihat orang-orang datang
dengan wajah yang berbeda-beda:
ada yang buru-buru,
ada yang tersenyum,
ada yang hanya butuh seteguk tenaga
untuk melanjutkan hidupnya hari itu.

Dan diam-diam,
kami belajar bahwa SPBU bukan hanya tempat mengisi bahan bakar.
Ia adalah halaman kecil dari kehidupan:
tempat orang menepi dari lelah,
tempat sopir truk menghela napas panjang,
tempat anak muda menunggu ayahnya
dengan radio yang menyala pelan.

Kadang saya berdiri di pinggir bangunan itu,
melihat nomor-nomor yang bergerak di meteran,
dan berpikir:
betapa hidup ini juga seperti itu—
mengalir, bertambah, berkurang,
namun tetap harus dijaga agar tidak tumpah
dan tidak pula kering.

Istri saya, dr. Zurtias,
selalu mengulang kalimat yang sama,
kalimat yang kini terdengar seperti mantra rezeki:

“Enak usaha SPBU ini,
tak ada tawar menawar,
tak ada restan.
Semua jelas, semua nyata,
tak perlu menunggu
siapa yang ingin berutang
atau siapa yang hendak menunda.”

Dari bibirnya yang tenang itu
saya belajar satu hal:
bahwa ketulusan dan kejujuran
adalah bahan bakar yang tak pernah habis,
dan usaha apa pun akan berdiri
jika dua hal itu tidak kami lepaskan.

Begitulah,
dari antrean yang dulu terasa panjang,
Allah membukakan jalan lapang,
dan dari kesabaran yang sepele,
lahirlah keberkahan yang tak kami duga. (*)

Related posts
Tutup
Tutup