Blueskampus.Com

Butet Siregar

MUDAPEDIA.COM – Anno, 2006

Aloooow, Bestie. Kenalan dengan diriku, yuuuk!

Sapa coba yang mo kenalan sama si geulis ini, hihi. Nama aku panjang kali lebar yang tak jelas geto. Pas SD suka dilecehkan sama musuh buyut aku, si Nenk gembrot. Dia suka ngata-ngatain nama aku; “Aji…, mati, mati loe, huuueeekkk!”

Padahal, konon menurut Mom aku, nama ini ada maknanya. Azimattinur Karibun Nuraini Siregar. Nah loh, nyureng-nyureng deh situ bacanya!

Apa tadi? Oya, artinya; Benteng Cahaya Mata. Tuh Nuraini diambil dari nama seorang Bou aku. Bou sebutan buat Uwak cewek kakak Bokap, dalam halak hita alias orang Batak. Kan bokap asli Tapanuli Selatan.

Karibun diambil dari nama mendiang Ompung alias kakek aku. Tak pernah aku ingat lagi tampangnya. Beliau dipanggil Sang Pencipta pas cucunya ini masih orok.

Oya, kenapa dikasih nama Blueskampus.Com?

Awalnya sih RatapananakMama.Com.

Mom bilang; “Norak tauk, ngapain pake ratapan-ratapan? Kayak sinetron kita aja, merataaap muluuu. Meweeeek mulu, bete tauk!”

Tentu saja, karena aku seorang anak yang berbakti kepada bundanya. Ciee, mending minta masukannya deh.

“Menurut Mama, apa bagusnya dong nama blog Butet nih?”

“Mmm, nyanyian, tembang, kidung.…”

“Nope don’t!” seru aku berlagak histeris.

“Iya juga sih…, kagak pantes-pantesnya buat anak muda mah, yah?”

Tuuuh kan, Mama yang ngasih judul, Mama yang ngenye. Mama yang aneh!

“Puter otak atuh, Tet!” serunya ngomporin.

Mendadak cliiiink, ada yang nyusup ke otak aku.

“Sebenernya Mama waktu sebaya Butet dulu, ya? Mmm, pernah punya aliran musik favorit tak?”

“Punya atuuuh…. Namanya juga anak gaul, hihi.…”

“Penyakitan gitu, memang masih bisa gaul?”

“Iya, gaulnya sama lagu-lagu dan buku…. Blues!”

“Blues? Kayak gimana tuh?”

“Kayaknya Abang punya koleksi semua aliran musik dunia.…”

Pas ke rumah kontrakan mereka di Kukusan, aku obrak-abrik kompinya. Maksud aku didukung Mom geto. Dia ada di sebelah aku tuh. Ikutan ngoprek kompi si Abang. Jarang-jarang lagi bisa begini. Mumpung orangnya tak ada. Hihi, rasain loe!

“Yaaaa.… bener yang ini nih! Janis Joplin…. Babe King…”

Syeeet deh, aaargggh!

“Tak kalah sama nenek Leilasari nih Mom aku!”

“Pssst…, diam, dengerin aja sendiri!”

Pas didenger-denger asyik juga blues ini.

“Iya deh, Mom…. Blues, rasa-rasanya familiar juga nih, apa ya?”

“Ada antologi puisi WS. Rendra judulnya Blues Untuk Bonie,” cetus Mom.

Naaaah…, itu dia!

Pernah juga sih lihat sekilas di rak buku Mom. Aku belum sempat membacanya.

About My Dad

Eeeh, aku mendadak kepingin cerita dikit tentang Bokap, yah!

Tuh Batak, ops, Bokap maksud aku, paling tak suka kalo disebut Batak.

Ajaib kan, kalau gini ciri-cirinya;

  • Ntaku halak hita, katak mau disebut Batak.
    • Ntaku halak hita, marganya tak ditulis di belakang namanya.
    • Ntaku halak hita, tak pernah pulkam puluhan tahun.
    • Ntaku halak hita, kayaknya anti musik tuh, apalagi maen gitar en maen catur.
    • Ntaku halak hita…. Mmm, apalagi ya… (positifnya!) Muslim, bo!
    • Dan terutama tak maem gukguk.

Resign dulu ngomongin Bokap, yah…, eheeem!

About My Brother

Kalau mau jujur, sampai kelas dua SMA aku nih termasuk anak tomboy. Di lemari grobok, terbuat dari kayu murahan yang aku miliki sejak SD. Serius, tak ada satu lembar pun baju yang bernama rok, kecuali rok panjang seragam.

Aku baru pake rok panjang pas aktif di Rohis.

Lah iyalah…, masa iya sih aku pake jins belel dan t-shirt ngetat, buat hadir di liqo-liqo? Acara-acara yang sering aku sendiri jadi EO-nya? Bisa-bisa disidang rame-rame sama para senior Rohis.

Kenapa sih aku jadi anak tomboy? Setelah aku pikir-pikir lagi, kayaknya sih gara-gara Abang aku tuh. Sejak TK aku sudah diajari taekwondo sama abang aku yang pendekar itu. Maksudnya, pendek dan kekar. Pssst, jangan bilang-bilang doi, yah!. Coz, biarpun kenyataan si Abang tuh pendekar, sekarang tambah obesitas pula. Doi pedenya overload. Merasa paling keren, paling jenius, paling IT banget-banget, paling hepi sebagai ayah. Uhuuuk!

Tapi gitu-gitu, si Abang ini tetaplah superhero bagi aku.

Ada 10 alasan aku harus kagum bro sama makhluk satu ini.

  • Otaknya emang kinclong banget-banget deh, aaargh!
  • Pede aja biarpun miskin, mottonya; biar melarat asal smart!
  • Pantang ngelecehin cewek, dia pernah bilang; cuma kucing garong, pecundang yang suka mukul cewek.
  • Kalau punya keinginan dikejaaar teruuus!
  • Suka nyari sensasi yang bikin heboh serumah-rumah, contohnya nikah dini, saat umurnya baru 17,5 tahun. Uwasuuuu kan?
  • Apalagi yah, banyak lagi sih, tapi mendingan stop deh. Nanti makin overload pedenya. Dosa juga aku kalo bikin orang terjerumus ke lautan pede, ya kan?

Sejak si Abang merit, jujur saja nih, aku sering merasa kehilangan. Waktu bareng-bareng antara abang-adik, kayaknya lenyap sudah. Kalau pun masih ada tinggal dikiiiit, seucriiit!

Tentu saja dia lebih banyak dengan istrinya. Apalagi sejak mereka cabut dari rumah. Terus, mereka tinggal di rumah kontrakan. Kepingin mandiri, katanya sih. Waaah, semakin sering aku bengong, kayak anak tunggal. Tempat nyokap aku curhatan.

Eniwe, begitulah lakon hidup!

Kayaknya aku kudu terima kenyataan ini dengan hati seluas dusun korban lumpur Lapindo.

Seperti Mama bilang; “Kita lahir sendiri, kelak mati pun sendiri. Jadi, banyak-banyaklah sendirian, Butet….”

Iya juga ‘kali yah, biar kita bisa lebih sering merenung. Lebih sering mensyukuri nikmat Tuhan.

About My Little Zein

Hari Minggu, 8 Oktober 2006, lahirlah bayi merah dari rahim ipar aku. Makhluk imut-imut yang hobi TP (tebar pesona) kayak SBY ini, diberi nama Ahmad Zein Rasyid Siregar. Maknanya, menurut si Abang; anak laki-laki yang kece, smart, bijak dan cucu Batak ‘kaleee!

Tauk beneran apa katak tuh. Doain sajalah, oke? Terus terang saja, aku tak termasuk orang yang tergila-gila sama bocah. Segala macam makhluk bernama bocah sebisanya aku hindarin. Kenapa coba?

Kalau deket-deket bocah, tangan aku ini suka gemesan, kepingin gerayangin pipi entu bocah, nyubit. Apalagi kalau bocahnya ileran, penuh ingus dan doyan mewek. Huuh, rasanya kepingin aku samain dengan anak kuntil aja tuh!

Ajaibnya, pas lihat anak Abang aku, kontan hati aku kepincut. Najooong! Istilah ini diambil dari bahasa leluhur, Sunda, nendang. Tapi di sini bermakna oke punya. Benerin ajalah, oke? Kan sama temen sendiri. Hihi.

Semakin gede tuh bocah semakin luthuuuuna! Ngegemesiiiin!

Woaaah, aku fall in love nih sama dirimu, Zein. Aku inget banget. Pas Zein umur 6 bulan, pertama kalinya bisa aku ajak bercanda. Ciluk ba, ciluk ba, dia ngekeh-ngekeh. Dasar cucu Batak, kecil-kecil suara tawanya ngegelegaaar!

Tahu-tahu tangan-tangannya yang mungil diangkat ke arahku.

“Mo apaan sih nih, Teh?” tanyaku ke bundanya.

“Minta digendong kayaknya, Tet,” sahut ipar, sibuk wara-wiri ngurus rumahnya yang seuprit. Anehnya, dia selalu bilang; “Inilah rumahku surgaku, home sweet home!”

Jadi, aku ambil tuh anak dari boksnya, hadiah dari Zikrul Hakim. Eee, tangan-tangannya langsung ngegerayangin, ke mana-mana, Brow?

“Diiih, diiih…, geli tauk, geliii!” aku ngegerepeh-gerepeh.

Yeee…, si Zein ngekeh-ngekeh, mingkin kenceeeeng. Kocaaak!

Terus, aku ajak main ucang-ucang angge. Ayun-ayunan di kaki aku. Ini permainan diwariskan secara turun-temurun. Aku tahu dari Mom. Mom tahu dari Oma. Oma tahu dari Ma Uyut, en soon. Halaah…, pokoknya tak pernah bosan, tak pernah capek, tak pernah bisa nolak. Kepingin deketan terus sama bocah satu ini.

Dan dari ponakan aku inilah, aku belajar arti keibuan. Aku bisa nahan diri, lebih sabar, lebih telaten. Pokoknya, si Zein emang Sang Penakluk. Termasuk menaklukkan kebebalan hati Bokap. Kakeknya yang seneng banget kalau dipanggil; “Om…, puuuung!”

Well, betapa hebatnya keberadaan seorang bayi!

About My Mom

Kalau mau tahu tentang nyokap aku, gampang. Browsing aja, klik Google, langsung mburudul pilihan item Pipiet Senja. Ini gara-gara nyokap aku seorang penulis. Selain punya puluhan buku, Mom juga punya blog. Coba deh klik www.pipietsenja.multiply.com

Setelah MP dinyatakan RIP, Mama beralih punya blog sendiri, awalnya blogspot, wordpres. Kamudian berubah menyewa domain, website sendiri: http://www.pipietsenja.com. Tapi tidak lama, karena ada yang menghacker. Intinya website ini tidak bisa dibuka lagi oleh Mama. Kalau tak salah, gara-gara posting lakon jalan-jalan ke Freeport.

“Sekarang Mama punya website lain,” katanya suatu hari.

“Apa namanya, Mom?”

“Namanya masih Pipiet Senja, hanya pake buntut net. Http://www.pipietsenja.net.”

“Berapa sewa domainnya, Mama?”

“Hanya 105 ribu per tahun.”

Sejak itu, Mama semakin gila saja dengan dunia mayanya. Tulisan-tulisannya diposting melalui websitenya ini. Bloggermania nih mamaku!

“Kenapa gila banget sama ngeblog, Ma?” tanya aku satu hari.

“Yah, mama nulis saja di blog. Biar orang tahu bahwa Mama ada. Bahwa Mama masih hidup!” demikian jawaban ringkasnya, karuan bikin aku terperangah.

So, aku tak mau bahas tentang Mom, kali ini. Sudah ada bukunya juga Mom & Me seri pertama (Indiva Publishing). Di seri kedua Mom & Me ini, pasti bisa dilihat gimana-gimananya Mom di mataku.

Mendingan kita lanjut ke cerita berikutnya, oke, Gan! (*)

Related posts
Tutup
Tutup