

Pipiet Senja
April 2006
MUDAPEDIA – Suatu sore di ruang tamu rumah kami yang mewah dan mebur alias mepet sawah dan mepet kubur. Inilah kampung Cikumpa, belakang perumahan elite Mutiara Depok yang dibentengi tembok lima meteran.
“Serius nih Ma, jadi berangkat hajinya minggu depan?”
“Iya, Nak, kok nadanya seperti meragukan?”
“Yeeeh, bukan begitu sih. Hanya lagi mikir saja, kepingin ngasih bekal buat Mama.”
Kalau menuruti perasaan, kepingin nangis saja saking terharu. Tapi ini lagi berduaan dengan seorang Butet yang notabene ABG, detik-detik berharga untuk membiarkannya curhatan. Lagipula, sepertinya air mata di rumah ini sudah mulai mongering.
“Yang penting doakan Mama, ya Nak,” kuraih bahunya dan kudekap dia erat-erat.
“Tapi kan Butet kepingin ngasih Mama bekel,” suaranya mengambang, dipandanginya wajahku lekat-lekat. “Memang Mama tidak apa-apa tuh cuma bawa bekal seratus real?”
“Yah, tidak apa-apalah. Kan niatnya juga buat ibadah, ngapain mikirin bekal segala, Nak?”
“Kalau Mama sakit di sana, misalkan, bagaimana? Kan butuh uang buat berobat?”
“Ada Allah Sang Maha Penyembuh.”
“Iiiih… Mama ini… kacooow, aaarrggghhh!”
Percakapan terputus oleh kedatangan Haekal yang membawa si kecil Zein. Kadang aku memanggilnya Ze. Ketika Butet mengadukan kenekadanku cuma bawa bekal seratus real (pemberian teman pengajian), Haekal buru-buru menyodorkan kartu ATM-nya.
“Nanti Mama ambil saja seberapa perlunya, di Mekkah, ya,” katanya tulus.
“Wah, janganlah, Bang!” elakku. “Ini kan simpanan Abang buat SPP-mu nanti.”
“Soal SPP mah biar nanti saja, Ma, gampanglah!”
“Loh, gampang bagaimana?”
“Ya, artinya, kalau ada duitnya S2 dilanjutkan. Kalau tidak ada mah, yo wis, dipending saja dulu,” sahutnya kalem.
Kuambil juga ATM Haekal dengan tiada niatan untuk memanfaatkannya, kemudian melanjutkan bercengkerama. Malamnya, Butet yang masih kentara penasaran dengan bekal emaknya berhaji, mendatangiku di kamar. Dia mengajukan ide, membuat kolaborasi ibu-anak isinya tentang kami berdua. Intinya, aku di mata dia demikian pula sebaliknya. Pendeknya curcolan kami berdua.
“Nah, jual putus saja, Ma. Pak Remon sepertinya tertarik tuh!”
“Tahu dari mana, ih, suka sotoy!”
“Kan nama Butet mah sudah identik dengan ZH, kata teman-teman geto loh. Tinggal Mama yakinkan beliau saja, mau apa tidak tuh beli putus dalam waktu dekat ini.”
“Oke, kita coba saja, ya. Judulnya apa nih?”
“Mmmm, apa ya? Duet maut ibu dan anak kaleee, eeeh! Huhu, macam dangdutan saja. Yowis, Mom and Me ‘kali….:
Pada perkembangan selanjutnya, judulnya berubah menjadi Mom & Me, berbelas tahun kemudian edisi revisi judulnya berubah lagi; Dunia Tanpa Airmata.
Dan tidak jadi jual putus saat itu. Aku merasa sungkan kepada Zikrul Hakim, kalau mendesak minta uangnya, sementara naskahnya belum jadi.
Maka, kutawarkan saja naskah memoar adikku; Tuhan Jangan Tinggalkan Aku, saat itu telah hampir selesai kugarap. Dibayar separuhnya saat aku akan berangkat haji, sisanya setelah selesai naskahnya yang kukebut sepulang haji.
Tahu-tahu Butet antusias sekali kepingin kuliah di Kedokteran atau Hukum. Tanya sana-sini yang PTN, ternyata banyak sekali peminatnya. Jalur khusus, mahalnya minta ampun!
“FKG minimalnya 45 jeti, dan FH 35 jeti. Itu di Unpad, Ma. Kira-kira mampu tidak ya?” cetusnya suatu hari dengan wajah mengelam. Disodorkannya brosur tentang jalur khusus SMUP Unpad.
“Kenapa memangnya dengan UI, Nak?”
“Kalau kelas internasional 250 jeti, Ma.”
“Serius nih ngeper dengan SPMB?” kupandangi parasnya dengan sepasang mata bening yang samar diwarnai harap-harap cemas.
“Ikut sih ikut, Ma, cuma sepertinya, Butet kan tidak sehebat Abang. Nah, Abang saja dulu tidak dapat FK…”
“Iya, tapi Abang juga kan dokter sekarang. Dokter komputer,” tukasku tertawa dibarengi cengiran Butet.
Setelah diskusi alot dengan bapaknya yang hampir selalu menyerahkan semuanya (jika itu urusan uang!) kepadaku, maka kami memutuskan untuk menggadaikan rumah yang kami tempati saat ini. Beberapa pekan aku segera dibuat wara-wiri untuk mengurus IMB. Sebab selain sertifikat persaratan yang diminta pihak Bank adalah IMB.
“Seratus ribu,” berkata seorang petugas perempuan di Kelurahan.
“Apa? Hanya surat pengantar?” seruku tertahan, kaget.
“Iya, seratus ribu, Bu. Memang Ibu mampunya berapa?”
“Yah, ini di dompet saya cuma ada 20 ribu,” sahutku dengan naif kuperlihatkan isi dompetku.
Karena dia keukeuh menuntut 100 ribu, maka kutinggalkan kantor Kelurahan pagi itu. Otakku langsung berputar, ini baru di Kelurahan, bagaimana pula nanti di Kecamatan? Kira-kira berapa mereka akan menghargai selembar IMB yang konon dalam pemutihan? Menurut otak awamku ini, jika ada istilah pemutihan bukankah identik dengan pembebasan alias gratisan?
“Di Kecamatan aku dimintai 600 ribu,” kata kakak iparku yang juga pernah mengurus IMB untuk hal serupa, menggadaikan rumah. “Tapi itu dua tahun yang lalu, sekarang bisa jadi jutaan…”
Ya Allah, ini baru urusan IMB, belum sampai ke Bank!
Kulayangkan SMS tentang harga IMB ini kepada ustadzahku, Ibu Yoyoh Yusroh dan Mbak Yayu, istri Pak Tifatul Sembiring. Bu Yoyoh langsung respon, bahwa memang demikianlah buruknya pelayanan kepada masyarakat. Tulis saja di media, Teh, katanya. Melalui stafnya, beliau meminta nomer rekeningku dan mentransfer sejumlah uang.
Ya Allah, masih sempat dan pedulinya Ustadzahku ini, padahal urusannya pasti seabreg-abreg, dan menyangkut kepentingan rakyat. Sungguh sosok pemimpin yang patut diteladani oleh para pemimpin lainnya!
Di Kecamatan ternyata aku ‘digetok’ sejumlah 680 ribu rupiah!
“Tolong dibuatkan kuitansinya, ya Pak,” pintaku.
“Oh, tidak ada kuitansi-kuitansianlah. Yah, begini saja,” elak petugas ber-tagname Edi Ferdian itu dengan kalemnya.
Padahal, aku sudah susah payah pinjam kaos PKS dan gedembrengan mengenakannya. Kata rekanku, aktivis PKS, kalau ada urusan di institusi Pemerintah, dengan memakai kaos PKS, biasanya lancar. Depok memenangkan PKS, tapi nyatanya; alamak!
“Meskipun Walikotanya orang PKS kan bawahannya bukan, Ma,” komentar Butet yang menertawai kelakuanku. “Lagian Mama ini aneh-aneh saja, pake kaos PKS segala. Memang mo demo apa, tidak musim tahuuuk!”
“Karena logo PKS-nya cuma di dengkul ‘kali, ya Tet,” ujarku jadi cengiran.
“Nah, besok-besok taro di jidat tuh logo PKS-nya, dijamiiin…”
“Apa?”
“Disangka gak waras ‘kalee, queqeqe…”
Sudah memiliki IMB selain sertifikat rumah, maka dengan semangat juang ‘45, pergilah diriku ke BNI. Ternyata persaratannya masih mburudul, Sodara.
Mulai dari fotokopi KTP suami-istri, surat nikah, kartu keluarga, pasfoto ukuran 2 kali 3, sampai surat keputusan pengangkatan PNS dan slip gaji; ampyuuun deh, aaarrrgggh!
“Kan sudah ada sertifikat dan IMB, Mbak. Kenapa harus ada slip gaji dan Skep PNS segala?” protesku.
“Yaaah, memang beginilah persyaratannya, Bu.”
“Terus, kalau yang pinjam bukan pegawai atau karyawan bagaimana?”
“Ini sudah dicatat semua persyaratannya, Bu,” kilahnya.
Ingin rasanya kujelaskan bahwa diriku ini memang bukan karyawan atau pegawai, tapi berpenghasilan lumayan. Namun percumalah, sebab sebelumnya permohonan kartu kreditku pun ditolak oleh Bank yang sama. Gara-gara aku tak bisa memberikan slip gaji yang dimaksud.
Padahal aku sudah menjadi nasabahnya selama bertahun-tahun. Nah, seniman macam diriku ini, bagaimana mungkin punya slip gaji? Aneh-aneh saja!
“Kalau tidak dibayar-bayar kan gampang Mbak, ambil saja rumah kami!” Demikian aku tinggalkan Bank itu sambil bersungut-sungut. Lantaran sudah bisa kutebak bagaimana reaksi bapak si Butet.
Dan benar saja! Bapak si Butet, seperti biasa malas untuk mengurus berbagai hal ke kantornya. Mentoklah sampai di situ urusan ke Bank. Kami, aku dan Butet kembali membahas hal ini dengan serius sekali. Hingga sampailah pada istilah kerenku, kontrak eksklusif, dan karena kami penulis maka seyogyanya diajukan ke penerbit.
Setahun yang lalu, jika bukan Cordova Travel yang menghajikanku, tentu aku akan ikut jamaah Ar-Rayyan. Mereka punya penerbitan Khairul Bayaan Press yang bersedia kontrak eksklusif beberapa buku karyaku senilai harga tiket ONH Khusus. Jadi kontrak ekslusif ini bukan hal baru bagiku.
Saat kuajukan walau masih berupa oret-oretan draftnya langsung kepada Pak Remon (Dirut Zikrul Hakim), ternyata beliau menyambutnya dengan hangat.
Alhamdulillah, subhanallah walhamdulillah. Allah Maha Pengasih!
Maka, inilah salah satu karya kami, berupa kolaborasi antara diriku dengan putriku. Tiga naskah lagi akan ditulis sendiri oleh Butet, sisanya bagianku, insya Allah. Spesial kepada Pak Remon dan Uni Amalia, terima kasih yang tak terhingga atas keikhlasan bekerja sama sejak 2002. Semoga Allah Swt melipatkan rezeki Anda, dan bisnis penerbitannya sukses serta membawa hikmah kepada umat.
Mohon doa pula dari para pembaca kami agar semuanya lancar, dimudahkan oleh Allah Swt. Terutama agar cita-cita Butet terkabulkan. Terima kasih telah membeli karya-karya kami selama ini. Allah Swt memberkahi kita semua. Amin Allahuma amin.
@@@